Jumat, 23 November 2012

You are My Love (Bleach Fanfiction)


Konbanwa, Minna... ^_^
Ini adalah fanfic kedua yang saya post di blog ini...
Bagi yang berminat, silahkan baca dan jangan lupa berikan komentar, ya... ^_^

.
.
.

Disclaimer : Bleach itu punya saya donk *dilempar lemari es*. Tapi kenyataan harus mengatakan kalau Bleach itu milik Tite Kubo-sensei.
(Author nangis guling-guling di sawah)

 This Story by Aira

Pairing : Ichigo K. & Rukia K.

Warning : OOC, AU, Ada LEMON Gaje (Tidak direkomendasikan untuk yang umurnya dibawah 17 th), Abal, Alur gak karuan, dll, dst, dsb, lan liya-liayane (?)
Don’t Like, Don’t Read.


-You are My Love-


“Hei, Rukia. Kau memperhatikan dia lagi ya?” tanya seorang gadis berambut orange kecoklatan kepada temannya yang sejak tadi mengarahkan pandangannya keluar jendela.

Gadis yang dipanggil Rukia itu hanya menoleh sekilas pada sahabatnya, lalu pandangan matanya kembali pada arah semula.

“Hn, ya kau benar, Orihime,” jawab Rukia singkat pada gadis disampingnya, Inoue Orihime.

Seuntai senyum manis kembali terlihat di wajah Rukia saat dia melihat ke luar jendela kelasnya. Tampak seorang pemuda berambut orange mencolok yang sedang bermain bola dengan teman-temannya di lapangan sepak bola yang terlihat dari kelas mereka di lantai dua.

“Hhh, sampai kapan kau hanya akan memperhatikannya dari jauh seperti ini, Rukia? Apa tidak sebaiknya kau ungkapkan saja perasaanmu padanya,” saran Orihime pada sahabat baiknya di SMA Karakura ini. Matanya mulai mengikuti pandangan mata Rukia memperhatikan sosok yang begitu disukai oleh sahabatnya itu. Kurosaki Ichigo.

“Entahlah, Orihime. Aku tidak pernah memiliki kemampuan untuk mengatakannya. Maksudku, kau tahu sendiri kan bagaimana Ichigo itu, aku ragu kalu dia juga menyukaiku.” Kali ini mata Rukia terlihat begitu sendu. Sesaat Rukia sempat melihat Ichigo menatapnya, tanpa sengaja pandangan mereka saling bertemu, membuat hati Rukia berdebar tak karuan, tapi sedetik kemudian Ichigo sudah mengarahkan pandangannya ke tempat lain.

Orihime hanya tersenyum melihat gadis berambut raven disampingnya, dia tahu kalau sudah lama Rukia memendam perasaan pada teman masa kecilnya itu.

“Tapi kau tidak akan pernah tahu kalau kau tak pernah mencoba mengatakannya kan,” kata Orihime tersenyum. Rukia memandang Orihime, terlihat keraguan dari tatapan mata Rukia. “Aku yakin kau bisa,” lanjut Orihime sambil mengedipkan sebelah matanya pada Rukia.

Rukia lalu tersenyum pada sahabatnya, Orihime memang benar-benar sahabat yang bisa mengerti dirinya.

“Terima kasih, Orihime.”

“Ya, eh maaf ya, Rukia. Aku harus ke perpustakaan sekarang, tadi aku sudah janji pada Ishida-kun untuk menemuinya di perpustakaan.”

Orihime segera berdiri dari kursinya dan berjalan meninggalkan Rukia di dalam kelas sendirian.


-RUKIA’S P.O.V-


Aku kembali memperhatikannya dari balik jendela kelasku, wajahnya yang bersinar diterpa sinar matahari, senyumnya yang begitu menenangkan, pandangan matanya yang mampu membuatku terperangkap oleh sepasang mata hazel yang dimilikinya. Aku benar-benar tidak sanggup menepis pesonanya dari dalam hatiku.

Yah, inilah aku, Kuchiki Rukia. Seorang siswi kelas 2 dari SMA Karakura, sudah lama aku memendam rasa suka pada teman masa kecilku itu, Kurosaki Ichigo, yang merupakan siswa terpopuler yang ada di SMA Karakura. Bukan hanya karena wajahnya yang tampan, tapi juga karena segudang  prestasi yang dimilikinya.

Sayangnya aku tidak penah sanggup mengungkapkan perasaanku padanya. Aku sadar seperti apa diriku, aku hanyalah gadis biasa yang tidak begitu terkenal disini. Prestasiku dalam pelajaran juga biasa-biasa saja, bahkan tinggi badanku juga masih terlihat seperti anak SMP, benar-benar tidak ada yang menarik. Aku tahu tidak mungkin Ichigo bisa suka padaku. Selama ini dia hanya menganggapku sebagai temannya saja, aku bahkan tidak tahu kenapa dia mau berteman denganku ini.

Dia memang begitu baik, begitu mengerti dengan diriku, sikapnya yang seperti itu semakin membuatku berharap padanya.

Ichigo, apa kau bisa mengerti tentang perasaanku ini?
Apa aku salah kalau begitu mengharapkanmu?
Pernah kucoba untuk memupus semua asa padamu, membenamkan semua rinduku untukmu.
Tapi saat pandangan kita beradu, kusadari sulit berpaling darimu.
Karena aku tahu, semua angan dan mimpiku aku berikan tulus untukmu...


-RUKIA’S P.O.V –END-


You will always be inside my heart
You will always have your own place
I hope that I have a place in your heart too





xXxXxXx




Ichigo melangkahkan kakinya menaiki tangga menuju kamarnya, keadaan dirumahnya sangat sepi kerena anggota keluarganya yang lain sedang pergi ke luar kota. Dan tinggallah Ichigo sendiri dirumah sekarang.

Ichigo langsung membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur begitu sudah memasuki kamarnya.

“Rukia,” gumam Ichigo pelan. Bayangan akan gadis mungil itu terus saja memenuhi kepalanya. Seharian ini dia sama sekali tidak bertemu dengannya di sekolah, itu mungkin karena kelas mereka memang berbeda. Ya, kelas Ichigo adalah kelas 2-A sedangkan Rukia berada di kelas 2-F, jarak kelas mereka memang bisa dibilang cukup jauh,  dan entah mengapa Ichigo merasa ada sesuatu yang kurang setiap kali dia tidak bertemu dengan Rukia, seperti hari ini. Ini membuatnya merasa seperti... merindukan Rukia?

“Hhh...” Ichigo mengusap wajahnya pelan, dia lalu melirik ke arah luar jendela. Langit terlihat tidak secerah biasanya, gumpalan awan hitam menutupi cahaya lembayung matahari sore ini. Mungkin akan turun hujan nanti malam.

Pikiran Ichigo kembali pada sosok Kuchiki Rukia, tidak bisa dipungkiri kalau Ichigo memang telah tertarik oleh gadis itu. Gadis mungil itu berbeda, benar-benar tidak sama dari semua gadis yang pernah dikenalnya selama ini. Disaat semua gadis di sekolahnya berebut untuk mendapatkan perhatiannya, Rukia diam, dia hanya bersikap biasa di depan Ichigo. Saat gadis lain sibuk mempercantik diri mereka dengan segala macam make-up dan aksesoris lainnya, Rukia malah tidak pernah memperhatikan semua itu. Penampilannya benar-benar biasa, tanpa make-up berlebihan dan apapun itu. Namun justru itulah yang membuat Ichigo malah tertarik pada Rukia. Gadis itu malah terlihat manis walaupun tanpa riasan yang aneh-aneh.

Ichigo tersenyum mengingat hal tersebut. Entah sejak kapan, tapi Ichigo memang telah jatuh hati pada teman kecilnya itu.



What you offered straight to me
With a smile for the last time
Was just so beautiful

Surely, that day
The two of us touched love




xXxXxXx





-Kuchiki’s House, at 08.00 p.m-


Rukia masih berada di depan meja belajarnya, dia baru saja menyelesaikan tugas rumahnya dari Unohana-sensei. Rukia baru saja akan berjalan ke tempat tidurnya sampai dia melihat satu buku yang menahan langkahnya. Rukia mengambil buku tersebut dan memperhatikannya sejenak.

“Ini kan buku milik Ichigo yang kupinjam kemarin? Jadi belum ku kembalikan ya?” gumamnya pada diri sendiri.

“Ah! Gawat, bukankah Ichigo memerlukan buku ini besok.” Rukia tersentak dan melirik ke arah jam di kamarnya. Sudah jam 08.15 malam.

‘Masih ada waktu untuk mengembalikannya,’ pikir Rukia dalam hati.

Gadis itu segera beranjak keluar dari kamarnya, dia melihat kedua orang tuanya duduk di kursi ruang tamu rumah mereka.

“Mmm, Ayah, Ibu. Aku keluar sebentar ya, aku harus mengembalikan buku ini pada Ichigo,” kata Rukia sambil menunjukkan buku yang dibawanya.

“Oh, baiklah. Hati-hati ya, Rukia,” jawab Hisana, ibu Rukia sambil tersenyum lembut.

Rukia hanya mengangguk dan segera berjalan keluar rumah. Rukia sempat melihat langit malam yang begitu gelap karena tertutupi oleh mendung. Namun Rukia mengabaikannya dan segera pergi kerumah Ichigo.

Ditengah jalan Rukia merasakan tetes air yang dingin menyentuh permukaan kulitnya.
“Hujan,” gumam Rukia yang segera mempercepat langkahnya.

‘Bodohnya aku, kenapa aku tidak membawa payung sih. Padahal sudah tahu kalau malam ini mendung dan mungkin akan turun hujan,” maki Rukia dalam hati. Gadis itu langsung berlari sebelum hujannya semakin bertambah lebat.

.

.

.

Ichigo sedang memandangi hujan yang turun dari balik jendela kamarnya. Kemudian dia tersentak tersentak ketika mendengar suara bel rumahnya.
‘Siapa yang kemari malam-malam begini?’ pikir Ichigo dalam hati. Pemuda itu segera beranjak dari kamarnya untuk membukakan pintu.

“Rukia?  Ada apa?” tanya Ichigo yang terkejut begitu mendapati sosok Rukia yang berdiri di depannya dengan pakaian yang sedikit basah.

“Ah, aku hanya ingin mengembalikan buku ini,” kata Rukia tersenyum sambil menyerahkan buku ditangannya pada Ichigo, “terima kasih ya,” lanjut Rukia. Ichigo melihat tubuh Rukia sedikit bergetar karena kedinginan, tentu saja, malam ini memang begitu dingin ditambah lagi dengan hujan dan pakaian Rukia yang basah.

“Hhh... Kau ini. Masuklah, kau pasti kedinginan di luar,” kata Ichigo mempersilakan Rukia masuk.
Tanpa berkata apa-apa Rukia segera mengikuti Ichigo masuk kedalam rumah.
“Tunggu sebentar, aku ambilkan handuk untukmu.” Ichigo segera meninggalkan Rukia sendiri untuk mengambilkan handuk. Rukia kini duduk di sofa ruang tamu Ichigo. Pikirannya kembali menerawang entah kemana.

Dia teringat pada perkataan Orihime padanya di sekolah tadi. Benar apa yang dikatakan Orihime. Rukia tidak akan pernah tahu kalau dia tidak pernah mencoba mengungkapkan perasaannya.

“Kau ini, memangnya besok tidak ada waktu untuk mengembalikannya apa?” Suara Ichigo berhasil menyadarkan Rukia dari lamunannya. Rukia melihat ke arah Ichigo yang sudah kembali membawa handuk dan segelas coklat panas.
Ichigo lansung menyerahkan handuk tersebut pada Rukia dan juga menyodorkan segelas coklat panas itu.
“Minumlah, ini akan membuatmu merasa lebih baik.”

Rukia menyesap coklat tersebut dan benar saja, dia merasa lebih baik ketika merasakan coklat itu mengalir melalui kerongkongannya.

“Habisnya, bukankah kau memerlukan buku itu besok,” jawab Rukia setelah perasaannya kembali tenang.

“Ya juga sih, hehehe... Tapi kenapa kau menerobos hujan tanpa membawa payung, bodoh.”

“Hei, jangan mengataiku bodoh, jeruk.” Rukia sedikit berteriak karena kesal pada Ichigo.

“Baiklah baiklah, kurasa sebaiknya kau tunggu saja disini dulu sampai hujannya reda,” kata Ichigo pada Rukia yang duduk disampingnya. Ichigo sedikit melirik Rukia yang masih terlihat gemetar. Melihat Rukia yang seperti itu entah kenapa membuat Ichigo ingin mendekap tubuh mungil itu dan membuang rasa dingin yang dirasakan oleh Rukia.

JGEERRR!

PATS.

“KYAAAAAA!”

Rukia menjerit dan langsung memeluk tubuh Ichigo disampingnya. Rupanya ada petir yang cukup besar menyambar sehingga membuat listrik di kota Karakura padam.
Rukia semakin membenamkan wajahnya pada dada Ichigo.
“Hiks hiks, a-aku takut,” isak Rukia pelan. Tubuhnya semakin gemetar karena takut dan juga hawa dingin yang semakin menusuk.

Ichigo yang melihat Rukia begitu ketakutan hanya bisa mengeratkan pelukannya untuk menenangkan Rukia.
“Tananglah, aku disini,” ucapnya lembut seraya mengusap kepala Rukia.

“Hiks hiks, Ichi...”

“Ssshh, sudah tidak apa-apa.”

Hening.
Tak ada kata yang keluar dari mulut keduanya. Ichigo masih memeluk erat Rukia sampai gadis itu tenang.

“Ichi...,” ucap Rukia pelan masih membenamkan wajahnya di dada Ichigo.

“Hn,”

“Apa selama ini kau tidak pernah mengerti perasaanku padamu, Ichigo?” tanya Rukia pelan.

“A-apa maksudmu?” Ichigo sedikit terkejut dengan perkataan Rukia barusan.

“Apa selama ini kau tidak pernah menyadari kalau aku begitu menyukaimu?”
Perlahan Rukia mengangkat wajahya untuk menatap Ichigo. Air mata kembali menggenangi kedua iris violetnya yang indah.
Ichigo masih terdiam, masih tidak percaya pada apa yang didengarnya barusan.

“Apa kau tidak menyadari kalau aku begitu menyukaimu, Ichigo. Sangat, aku sangat menyukaimu.”

DEG

Entah perasaan apa yang kini dirasakan oleh Ichigo, ia menatap Rukia yang masih menangis dalam pulukannya. Ya, gadis yang dicintainya kini menangis karena dirinya.

“Aku menyukaimu, Ichigo. Kumohon, beri aku kesempatan untuk menjadi milikmu. Izinkan aku menjadi bagian dari dirimi, Ichigo. Aku- Mmmpphh.” Perkataan Rukia terpotong ketika ia merasakan bibirnya telah dibungkam oleh bibir Ichigo.
Ichigo mencium Rukia dengan lembut, lalu kemudian menatap wajah Rukia yang memerah,
“Sudah cukup,” kata Ichigo tersenyum lembut ke arah Rukia sebelum akhirnya kembali mencium bibir Rukia.
Perlahan ciuman Ichigo semakin bertambah liar, dia terus memagut bibir Rukia lalu menggigit kecil bibir bagian bawah Rukia meminta izin agar lidahnya bisa memasuki rongga mulut Rukia.

Rukia sedikit membuka mulutnya, tidak mau menyia-nyiakan kesempatan, lidah Ichigo segera menerobos masuk kedalam mulut Rukia, bermain didalamnya, lidahnya terus menjelajah setiap rongga mulut Rukia, mengabsen satu-persatu gigi Rukia.

“Nngghh . . . Ichi . . .” Rukia tidak tahan untuk tidak mendesah ketika diperlakukan seperti ini oleh Ichigo. Lidahnya yang awalnya hanya diam kini mencoba untuk mengikuti permainan Ichigo, saling memagut hingga membuat saliva mereka saling bercampur dan menetes keluar.

“Nngghhh... Aahhh, Ichi-goo...” Suara desahan Rukia semakin membuat Ichigo bergairah, dia menginginkan Rukia. Tapi tentu saja kebutuhan oksigen memaksa keduanya untuk melepas ciuman mereka.

Ichigo memandang Rukia yang masih mencoba mengatur nafasnya yang terengah-engah karena ciuman mereka tadi. Tak lama, Ichigo kembali melumat bibir Rukia lagi.
Kali ini Ichigo memposisikan tangannya pada bagian belakang pundak Rukia dan tangan satu lagi dibawah lutut Rukia. Ichigo mengangkat tubuh gadis itu dan menggendongnya menuju kamarnya, tentu saja masih dengan bibir mereka yang masih saling berpagutan satu sama lain.

Ichigo menutup pintu kamarnya dengan kakinya dan kemudian membawa Rukia ke tempat tidurnya. Perlahan Ichigo menurunkan tubuh kekasihnya dan membaringkannya di atas ranjang. Dia melepas ciumannya dan menatap lembut ke arah Rukia, Rukia hanya tersenyum dengan wajah memerahnya.

“Aku mencintaimu, Rukia,” bisik Ichigo tepat ditelinga Rukia.

“Aku juga, Ichigo,” jawab Rukia pelan semakin memeluk erat tubuh kekar Ichigo.

Ichigo tersenyum dan kembali melumat bibir Rukia.
“Aahhh . . . Nngghhh, Ichi ohh goo...” Desah Rukia semakin menjadi ketika tangan Ichigo telah berani menjamah bagian sensitifnya.

Ichigo terus mencium Rukia sedangkan tangannya mulai meremas bukit kembar milik Rukia yang masih tertutupi oleh pakaian. Merasa pakaian itu mengganggu Ichigo lantas melepaskannya dan melemparkannya kesembarang tempat.
Kini tidak ada sehelai benangpun yang menutupi tubuh bagian atas Rukia.

“Aaahhh... hhh... Ichigoo...”

Ciuman Ichigo yang awalnya pada bibir Rukia, perlahan turun mencapai leher Rukia.
Ichigo kembali memainkan lidahnya di leher jenjang milik Rukia, ia jilat, hisap, dan ia gigit kecil permukaan kulit leher Rukia. Membuat Rukia mendesah hebat karena kenikmatan yang diberikan Ichigo.
Ichigo terus melakukan hal itu sampai leher Rukia dipenuhi oleh kissmark darinya.

Melihat kedua bukit kembar milik Rukia yang belum terjamah olehnya, Ichigo lalu menjilat dada Rukia, menggigit putingnya pelan dan menghisapnya seperti anak kecil yang sedang munyusu pada ibunya.
Sedangkan dada Rukia yang satu lagi ia mainkan dengan jarinya, ia pilin pelan puting Rukia. Membuat gadis itu mendesah dan menggeliat menampakkan sesuatu yang lebih dimata Ichigo.

“Aaahhh... haahh... hhh... Ichiohgooo, pelan-pelanhh...”
Rukia semakin mendesah hebat ketika tangan kanan Ichigo mulai merambat masuk kedalam celana dalamnya. Ichigo mengelus lembut parmukaan vagina Rukia.

“Wow, kau basah sekali, Rukia. Apa kau sudah tidak sabar ya sayang.”

Blush. Kalimat Ichigo barusan membuat wajah Rukia memerah.

“Di-diam kau,” kesal Rukia memalinngkan wajahnya yang sudah seperti kepiting rebus.

Melihat wajah Rukia yang seperti itu membuat Ichigo terkekeh. Dengan gesit tangan Ichigo mulai melepas rok dan celana dalam yang dipakai Rukia.
Juga tak lupa melepaskan pakaian yang dari tadi masih dipakainya hingga terlihatlah kejantanan milik Ichigo.
Wajah Rukia semakin memerah ketika melihat penis Ichigo yang sekarang sudah menegang.

Ichigo kembali memposisikan dirinya di atas tubuh Rukia. Menghujani setiap lekuk wajah Rukia dengan ciumannya. Sementara tangannya masih bermain di daerah vagina Rukia, terus menjelajahi vagina Rukia hingga ia menemukan clitorist Rukia yang kemudian ia mainkan dengan jarinya. Membuat Rukia tidak tahan untuk tidak mendesah.

“Nngghhh... Aaahhh... haahh... Ichigooo.”
Desahan Rukia semakin menjadi ketika ia merasakan ada benda asing yang berusaha menerobos masuk kedalam lubang vaginanya. Ichigo memasukkan tiga jari tangannya sekaligus kedalam vagina Rukia dan mulai menggerakkannya zig zag didalamnya. Membuat Rukia semakin menggeliat.

“Aaahhh... haahhh... hhh,” desah Rukia mengiringi klimaksnya. Ichigo langsung menarik jarinya yang sudah dipenuhi oleh cairan Rukia, ia jilat cairan itu dengan nikmatnya kemudian kembali memposisikan tubuhnya sejajar dengan tubuh Rukia.

“Kau percaya padaku, Rukia?” tanya Ichigo lembut tepat ditelinga Rukia.
Rukia mengangguk lemah, “Ya, aku percaya padamu, Ichigo,” jawabnya pelan ditengah nafasnya yang memburu.

“Tahan sebentar, mungkin akan sedikit sakit,”

“Aaahhhh...” Rukia menjerit tertahan ketika merasakan penis Ichigo mulai memasuki liang vaginanya. Air mata Rukia meleleh begitu Ichigo berhasil menembus pertahanannya. Cairan hangat mengalir keluar dari dalam vagina Rukia. Cairan hangat berwarna merah, darah. Rukia yakin keperawanannya telah hilang sekarang.

Tak tega melihat air mata yang mengalir dari mata kekasihnya, Ichigo kembali mencumbu Rukia lebih dalam, berusaha mengalihkan rasa sakit yang Rukia rasakan.

“Aaaahh... Aaahhh... Aaahhh... “ Desahan Rukia kembali terdengar ketika Ichigo memulai gerakan in-out nya. Bibirnya turun menjilati puting Rukia dan meremas yang satunnya.

“Aaahhh... Haahh... haahh... “
Desah Rukia mulai mengikuti irama gerakan yang dibuat oleh Ichigo. Rasa yang tadinya sakit, kina mulai terasa nikmat bagi Rukia, membuat gadis itu merasa seperti di awang-awang.

Ichigo semakin mempercepat gerakannya, membuat Rukia tidak tahan dan kembali klimaks untuk kesekian kalinya.

“Aaakkhhh... Rukia... “ Suara Ichigo tercekat ditenggorokan ketika dia mengeluarkan spermanya di dalam rahim Rukia. Ichigo menjatuhkan badannya di atas tubuh Rukia dan terengah-engah. Dia kembali menatap Rukia dan tersenyum lembut.

“Kau milikku, Rukia. Tetaplah berada disisiku dan jangan pernah meninggalkanku,” kata Ichigo tersenyum menatap Rukia.

Rukia benar-benar tidak menyangka kalau Ichigo akan megucapkan kalimat itu padanya. Rukia membalas senyuman Ichigo lalu menjawab pelan, “Ya, Ichigo. Aku milikmu, selamanya milikmu, dan percayalah aku tidak akan pernah meninggalkanmu.”

Ichigo mencium bibir Rukia sekali lagi kemudian menggeser tubuhnya kesamping tubuh Rukia dan memeluk Rukia.

“Aku mencintaimu, Rukia.”

“Aku juga mencintaimu, Ichigo.”

Setelah itu, Rukia menutupi tubuh mereka dengan selimut. Lalu mereka mulai terlelap, dan saat mereka membuka mata nanti, kisah baru akan terukir dalam hidup mereka.



Stay by my side, my love
Crossing over time and changing your shape
The future we haven’t yet seen
Remains here

Trust me, my love
You live within me
So I’ll never say good-bye to you

Surely, that day
The two of us touched love



-The End-


Summer Memories (Bleach Fanfiction)


Hai, Minna-san... ^_^
Kali ini saya ingin memposting fanfic buatan saya disini... :D
Kalau tertarik silahkan membaca dan jangan lupa tinggalkan komentar, ya... ^_^

.
.
.

Disclaimer : Bleach (c) Tite Kubo
This Story : Aira Yuzuriha

Pairing : Ichigo K. & Rukia K.

Warning : OOC, Typo(s), Abal, Gaje, Absurb, Abstrak, de el el.
Don’t Like, Don’t Read.

.
.
-SUMMER MEMORIES-
.
.


Suasana sudah cukup malam saat Ichigo Kurosaki memacu mobilnya meninggalkan rumah sakit Karakura. Dia ingin secepatnya  berada di rumah agar bisa melepaskan rasa lelahnya setelah seharian bekerja.
Namun sepertinya dia pulang terlambat lagi hari ini karena ketika Ichigo memasuki rumahnya, dia mendapati rumahnya dalam keadaan sepi dan gelap karena lampu ruang tamu sudah dimatikan.

“Hhh... sudah jam 10 malam ya...,” gumamnya pelan setelah melihat jam tangan yang dikenakannya. Perlahan tangannya mencari tombol lampu dan menyalakannya. Pria berambut orange terang itu mendesah berat saat menjatuhkan tubuhnya di sofa ruang tamu.
“Hah... aku pulang terlambat lagi, ya...” keluhnya sambil menyandarkan punggungnya yang terasa kaku. Pekerjaannya sebagai seorang dokter membuatnya harus selalu siap kapanpun dia dibutuhkan.

Tanpa sengaja pandangan matanya melihat sebuah kalender yang berada di dinding ruangan.
Sekarang, tanggal 15 Juli.
Ichigo tersenyum mengingat hari ini. Bukan hanya karena hari ini adalah hari kelahirannya, tapi karena hari ini juga hari dimana dia bertemu dengan orang yang sangat dia cintai untuk pertama kalinya.

Semua bermula saat Ichigo masih sekolah di SMA Karakura.

-FLASHBACK-

“Happy birthday to you... Happy birthday to you... Happy birthday... happy birthday... happy birthday Jeruk...”
Suasana ramai dalam kelas 3-A terdengar dari beberapa murid laki-laki yang sedang merayakan hari lahir salah satu sahabat mereka.

“Aarrgghhh... Kalian ini mau membuatku senang atau malah ingin mempermalukanku sih?” protes Ichigo sambil mengacak rambutnya yang berantakan.

“Baiklah, sudah diputuskan! Kita akan merayakan ulang tahun Ichigo dengan menghabiskan waktu di pantai!” seru Renji bersemangat diikuti dengan anggukan dari ketiga temannya. Ishida Uryuu, Hitsugaya Toushiro, dan Shuhei Hisagi.

“APA?? Apa maksud kalian? Kenapa harus di pantai?” tanya Ichigo yang terkejut dengan ide dari pemuda berambut merah itu.

“Ayolah, Ichigo. Ini kan hari ulang tahunmu... Jadi kami akan membuatmu tidak bisa melupakan hari ini seumur hidupmu.” Kali ini Hisagi yang berbicara.

“Yah, dan tidak ada tempat paling menyenangkan saat musim panas selain di pantai, kan.” Bahkan sekarang Hitsugaya juga ikut memberi komentar.

“Hahh...” Ichigo hanya menghela nafas pasrah menerima ide dari para sahabatnya.

“Hahaha... tenang saja, Ichigo. Ini semua pasti menyenangkan,” seru Ishida sambil menepuk pelan bahu Ichigo.

.
.

Okinawa, sebuah tempat yang menyuguhkan pemandangan yang begitu indah dan begitu memanjakan mata. Hasil dari suasana pedesaan Jepang yang khas berpadu dengan eksotisme pantai yang indah.

“Waahhh... Ini pasti menyenangkan sekali!” seru Hisagi bersemangat begitu melihat lautan yang terhampar luas dihadapannya.

“Bagaimana menurutmu, Ichigo?” tanya Hitsugaya pada Ichigo yang masih berdiri disampingnya.

“Yah, aku rasa ide kalian itu bagus juga,” kata Ichigo masih memandang takjub suasana yang ada di depannya.

“Baiklah, ayo kita bersenang-senang!!” seru Renji dan Ishida bersamaan.

“YEAAHHH!!”

.
.
.

Suasana penginapan yang mereka tempati tidak terlalu ramai. Mungkin karena semua orang lebih memilih untuk menghabiskan waktu mereka diluar ruangan. Yah, tidak heran sih. Siapapun pasti tidak ingin melewatkan keindahan dari salah satu pantai terindah di Jepang ini.

Kelima sahabat itu berjalan santai menuju kamar mereka sambil terus bersenda gurau dan tidak lupa saling melempar ejekan seperti biasa.

“Oh, maaf!” kata Ichigo saat dia tidak sengaja menabrak seseorang yang berjalan melewatinya.
Terlihat seorang gadis berambut hitam sebahu bertubuh mungil yang tampak menundukkan kepalanya.

“Ah, tidak apa-apa,” kata gadis itu seraya mengangkat kepalanya menatap Ichigo sambil tersenyum.

DEG.

Sepasang mata berwarna violet  itu begitu indah sehingga mampu membuat Ichigo terpaku. Senyum yang terukir di wajah yang mungil itu begitu cantik. Entah kenapa Ichigo begitu terpesona dengan keindahan dari amethyst yang dimiliki gadis tersebut.

“Hoi, Ichigo!” suara Renji sukses mengembalikan kesadaran Ichigo. “Kau kenapa?” tanya Renji yang merasa aneh dengan sikap pemuda barambut orange itu.

Ichigo menggelengkan kepalanya, “Tidak ada apa-apa,” jawabnya singkat.
Bahkan Ichigo tidak menyadari kalau gadis itu ternyata sudah pergi.

‘Siapa gadis itu tadi?’ batin Ichigo lalu kembali melangkahkan kakinya menyusul teman-temannya yang telah berjalan lebih dulu.

Setelah mereka selesai meletakkan semua barang-barang mereka di penginapan, mereka berlima kembali lagi ke pantai.
Cuaca yang terik tidak menghilangkan semangat mereka. Bahkan Hitsugaya dan Hisagi langsung menceburkan diri mereka ke air begitu mereka tiba di tepi pantai.

“Wow!! Kalian lihat gadis-gadis itu? Mereka cantik sekali! Apalagi dengan pakaian renang itu.”

BLETAK

Dua buah jitakan sukses mendarat di kepala Renji.

“Aduh! Apa yang kalian lakukan?” protes Renji tidak terima pada dua orang yang menjitak kepalanya secara tiba-tiba itu.  Siapa lagi kalau bukan Ichigo dan Ishida yang masih menunjukkan tampang innocent-nya.

“Kami hanya berusaha untuk menghilangkan pikiran mesum dari kepalamu,” jawab Ishida tenang tanpa rasa bersalah sedikitpun.

“Ayolah teman-teman. Kapan lagi kita bisa menikmati pemandangan seperti ini?” Renji tetap ngotot dengan pemikirannya.

“Yah... baiklah. Terserah kau saja lah,” kata Ichigo santai sambil mengedarkan pandangannya kesekelilingnya. Pemuda itu berusaha mencari sosok seorang gadis yang dari tadi telah mencuri perhatiannya. Seorang gadis yang memiliki mata amethyst yang indah.

‘Ah, ketemu!’ Mata hazel Ichigo tertuju pada satu tempat dimana gadis itu sedang bersama dengan beberapa temannya. Ya Tuhan. Senyuman itu, senyuman itu benar-benar mampu membuat hati Ichigo berdebar.
Hampir saja Ichigo melangkahkan kakinya untuk menemui gadis itu, namun teriakan dari teman-temannya kembali menahannya.

“Hey kalian!!! Apa lagi yang kalian tunggu?” teriak Hitsugaya.

“Disini menyenangkan sekali lho!” tambah Hisagi.

“Baiklah!! Kami kesana!” seru Renji yang kemudian langsung menjatuhkan dirinya ke air dan menuju tempat Hitsugaya dan Hisagi berada.

“Ayo, Ichigo!” ajak Ishida.

“Eh, kau duluan saja,” jawab Ichigo sambil sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Kebiasaan yang dia lakukan jika sedang gugup.

Ishida mengankat sebelah alisnya bingung. Namun tidak lama kemudian dia segera meninggalkan Ichigo.

“Baiklah kalau begitu,” kata Ishida sebelum bergabung dengan ketiga temannya yang lain.

Sementara Ichigo kembali mengarahkan pendangannya ke tempat dimana gadis itu berada. Tapi sayangnya sekarang gadis itu sudah tidak ada lagi disana.

Ichigo menghela nafas kecewa. ‘Cepat sekali dia pergi,’ batin Ichigo.

.
.
#0#0#0#
.
.

“CHEERRRSS!!”

Kelima gelas besar berisi cola dari lima orang yang sedang merayakan ulang tahun itu bertubrukan. Lima siswa dari SMA Karakura tersebut meminumnya lalu kemudian tertawa bersama. Membuat suasana cafe tepi pantai bernama ‘Espada Caffe’ itu terasa ramai. Ichigo menghela nafasnya dan sesekali tertawa melihat tingkah konyol para sahabatnya yang katanya sebagai hiburan di hari ulang tahunnya ini.

“Otanjoubi omedetou, Ichigo! Semoga rambut jerukmu itu semakin terang!”

“Selamat ulang tahun, Jeruk! Lain kali kau harus traktir kami, ya!”

“Yo, happy birthday, jeruk!”

“Hadiahnya kau buka saja di rumah ya!”

Renji, Ishida, Hisugaya, dan Hisagi beramai-ramai memerikan sebuah kado berukuran besar sebagai hadiah ulang tahun Ichigo. Pemuda yang sedang berulang tahun itu tersenyum tipis dan mengucapkan terima kasih berulang-ulang pada para sahabatnya.

Sampai suatu ketika pandangan mata Ichigo tertuju pada sudut ruangan. Disana, gadis mungil yang hampir seharian ini membuat hatinya kacau terlihat sedang duduk sedirian sambil menikmati segelas lemon. Mata amethyst-nya menatap lurus keluar jendela, ke arah pantai yang terlihat ramai karena mulai dipenuhi oleh orang-orang yang ingin menghabiskan musim panas mereka. Helaian rambut reven-nya melambai tertiup angin.
Ichigo kembali terpaku melihatnya. Dan sepertinya perubahan sikap Ichigo ini disadari oleh keempat sahabatnya. Mereka semua segera melihat ke arah pandangan Ichigo tertuju dan tersenyum saat mendapati seorang gadis yang tengah duduk sedirian di meja yang terletak di sudut ruangan.

“HOI, Ichigo!” teriak Renji tepat di telinga Ichigo, sengaja ingin mengejutkan pemuda itu.

“UWAA!” sayangnya Ichigo yang sangat terkejut dengan hal itu langsung terjungkal jatuh dari kursinya. Membuat suara tawa teman-temannya menggema.

“Hahaha... Lucu sekali reaksimu itu, Jeruk!”

PLAK

Lagi-lagi sebuah jitakan kembali mendarat dengan mulus di kepala Renji.
“Apa yang kau lakukan, BAKA?” protes Renji tidak terima.

“Seharusnya aku yang bertanya begitu! Kenapa kau tiba-tiba berteriak di telingaku bodoh!” teriak Ichigo.

“Oh, itu... Habisnya kau terus saja melihat gadis itu sampai segitunya,” kata Renji sambil menunjuk  seorang gadis yang sejak tadi diperhatikan oleh Ichigo.

“Hey, bukannya itu gadis yang kita temui di penginapan tadi?” celetuk Hisagi yang membuat Hitsugaya, Renji, dan Ishida kembali mengingat-ingat kejadian di penginapan tadi.

1 menit...

2 menit...

5 menit....

15 menit...

30 menit...

1 jam kemudian...

“Benar juga!” seru mereka bertiga bersamaan. Ichigo dan Hisagi sweatdrop. Lama amat loadingnya?

“Jadi kau menyukainya  ya, Ichigo?” tanya Hitsugaya yang membuat Ichigo kelabakan. Pemuda berambut terang itu tidak bisa mengeluarkan kata-kata untuk menyangkal ucapan temannya.

“Hahaha... Kau lucu sekali, Jeruk!”

“Sudah diam kalian semua!!!” teriak Ichigo frustasi.

Sementara itu gadis yang sedari tadi dibicarakan menolehkan pandangannya ke arah segerombolan pemuda yang membuat suasana cafe ini menjadi ramai. Gadis itu terkekeh geli melihat tingkah konyol beberapa orang disana.
Ichigo yang melihat hal itu langsung terpanah. Oh, Kami-sama. Ichigo rela kehilangan nyawanya sekarang asal bisa melihat senyuman itu sekali lagi.
Wajahnya terasa panas saat gadis itu tersenyum ke arahnya. Membuat suara tawa keempat temannya kembali memenuhi seisi ruangan tersebut.

.
.
#0#0#0#
.
.

Tanpa terasa suasana siang yang terik kini telah tergantikan oleh malam yang dingin. Terlihat beberapa orang masih berada di pantai sambil menyalakan api unggun.
Ichigo termenung di beranda kamar penginapannya. Seharian ini dia terus menjadi sasaran teman-temannya. Bagaimana mungkin dia bisa terlihat begitu bodoh hanya karena seorang gadis yang bahkan belum dikenalnya. Memori otaknya kembali memutar kejadian tadi sore saat dirinya bermain voli pantai dengan teman-temannya. Dan sebuah bola voli mendarat sukses ke wajahnya karena konsentrasinya terbuyarkan oleh kehadiran gadis mungil berambut raven yang tiba-tiba melewati tempat itu. Arrgghh... Ichigo benar-benar ingin membenturkan kepalanya ke tembok karena hal itu.
Gadis itu benar-benar sudah membuatnya gila.

Mata hazelnya kembali memperhatikan ke arah pantai yang masih cukup ramai walaupun hari sudah malam. Tapi tunggu dulu. Ichigo tersentak saat mendapati seseorang yang sedang duduk sendirian di pantai. Tidak salah lagi, itu adalah gadis yang seharian ini berhasil membuatnya terlihat seperti orang bodoh dihadapan teman-temannya. Gadis mungil dengan mata amethyst berambut raven.

“Hey, aku mendapat tiket untuk pergi ke pemandian air panas. Jaraknya tidak begitu jauh dari sini.” Terdengar suara Ishida dari dalam ruangan.

“Benarkah?” tanya Renji bersemangat.

“Ini benar-benar menyenangkan.”

“Hei, Ichigo. Kau  mau ikut tidak?” tanya Hitsugaya saat melihat Ichigo  berjalan mendekati mereka.

“Kalian saja dulu. Aku masih ada urusan,” jawab Ichigo yang lalu segera keluar dari sana dan meninggalkan para sahabatnya yang tampak kebingungan.

“Ada apa dengannya?” tanya Hisagi heran.

“Sudahlah, mungkin memang dia sedang ada urusan,” jawab Ishida tenang seperti biasa.

.
.

Angin dingin langsung menerpa tubuh Ichigo saat pemuda itu melangkahkan kakinya meninggalkan penginapan. Hatinya kembali berdegup tidak karuan saat melihat gadis mungil yang sedang duduk membelakanginya. Deruan ombak kembali terdengar memecah kesunyian malam. Angin malam terus menari-narikan helaian rambut hitam itu secara perlahan.

Dengan sangat pelan, Ichigo berjalan mendekati gadis itu.

“Hai,” sapanya singkat.
Gadis itu menoleh dan mendapati seorang pemuda berambut orange yang sedang berdiri di sebelahnya.

“Hai,” balasnya sambil tersenyum. Serius, Ichigo ingin sekali melompat kegirangan saat melihat senyum itu.

“Kau sendirian?”

“Seperti yang kau lihat.” Gadis itu tidak berhenti menunjukkan senyumannya.

‘Sial. Kalau seperti ini terus aku bisa mati,’ batin Ichigo.

“Boleh aku menemanimu disini?” tanya Ichigo dengan SANGAT hati-hati.

Gadis itu hanya mengangguk dan menggeser sedikit posisi duduknya agar Ichigo bisa duduk di sebelahnya.

“Ada yang sedang kau tunggu?” tanya Ichigo lagi.

“Ya...” gadis itu tersenyum senang. Ichigo tidak ingin mengambil kesimpulan kalau gadis ini sedang menunggu kekasihnya. “Hanabi,” lanjutnya.

“Hanabi?”

Gadis itu mengangguk dengan semangat. “Ya, setiap malam saat musim panas, akan ada hanabi disini.”

Dan benar saja, tidak lama kemudian sebuah cahaya berkelap-kelip dari kembang api di langit malam menandakan kalau perayaan kembang api telah dimulai.

Ichigo memandang gadis disampingnya yang terlihat begitu senang menatap warna-warni dari cahaya kembang api tersebut.
Merasa terus diperhatikan, gadis itu menoleh menatap Ichigo.

“Oh iya, siapa namamu?” tanya sang gadis dengan senyum mengembang di wajahnya.

“Kurosaki Ichigo. Dan kau?”

“Aku Kuchiki Rukia...”
.
.
-FLASHBACK –END-


Ichigo kembali tersenyum saat mengingat kembali pertemuan pertamanya dengan Rukia. Wanita yang sangat dicintainya hingga saat ini.

“Ichigo? Kau sudah pulang?” pertanyaan itu sukses membuat Ichigo tersadar setelah sejak tadi berflashback ria.
Ichigo menoleh dan mendapati seorang wanita tengah berdiri tepat disebelah anak tangga.
Laki-laki berambut orange itu segera berdiri menghampiri wanitanya dan memberikan sebuah kecupan singkat di keningnya.

“Kau belum tidur, Rukia?” tanya Ichigo tersenyum lembut.

Rukia menggeleng pelan. “Aku menunggumu.”

Tanpa berbicara apa-apa lagi, Ichigo langsung memposisikan tengannya di belakang bahu Rukia, dan tangan yang satunya berada di bawah lutut Rukia. Seketika itu juga tubuh Rukia telah terangkat dalam gendongan Ichigo.

“Kau bodoh, Rukia. Kau baru saja melahirkan. Kau harus banyak istirahat sampai kondisimu pulih,” ucap Ichigo seraya menggendong Rukia berjalan ke kamar. Ichigo kembali tersenyum mengingat kata melahirkan. Ya, dua hari yang lalu, wanita itu telah melahirkan anak pertama mereka. Kurosaki Akari.

“Ichigo,” panggil Rukia pelan.

“Hm?”

“Otanjoubi omedetou.”

Ichigo kembali tersenyum, “Arigatou, Rukia.”

Yah, sepertinya teman-temannya memang benar. Ichigo tidak akan pernah melupakan hari itu seumur hidupnya. Hari dimana dia bertemu dengan seseorang yang akan mendampingi hidupnya.

.
.
-The End-
.