Konbanwa, Minna... ^_^
Ini adalah fanfic kedua yang saya post di blog ini...
Bagi yang berminat, silahkan baca dan jangan lupa berikan komentar, ya... ^_^
.
.
.
Disclaimer
: Bleach itu punya saya donk *dilempar lemari es*. Tapi kenyataan harus
mengatakan kalau Bleach itu milik Tite Kubo-sensei.
(Author
nangis guling-guling di sawah)
This Story by Aira
Pairing
: Ichigo K. & Rukia K.
Warning
: OOC, AU, Ada LEMON Gaje (Tidak direkomendasikan untuk yang umurnya dibawah 17 th), Abal, Alur gak karuan, dll, dst, dsb, lan
liya-liayane (?)
Don’t
Like, Don’t Read.
-You are My
Love-
“Hei, Rukia. Kau memperhatikan
dia lagi ya?” tanya seorang gadis berambut orange kecoklatan kepada temannya
yang sejak tadi mengarahkan pandangannya keluar jendela.
Gadis yang dipanggil Rukia itu
hanya menoleh sekilas pada sahabatnya, lalu pandangan matanya kembali pada arah
semula.
“Hn, ya kau benar, Orihime,”
jawab Rukia singkat pada gadis disampingnya, Inoue Orihime.
Seuntai senyum manis kembali
terlihat di wajah Rukia saat dia melihat ke luar jendela kelasnya. Tampak
seorang pemuda berambut orange mencolok yang sedang bermain bola dengan
teman-temannya di lapangan sepak bola yang terlihat dari kelas mereka di lantai
dua.
“Hhh, sampai kapan kau hanya akan
memperhatikannya dari jauh seperti ini, Rukia? Apa tidak sebaiknya kau
ungkapkan saja perasaanmu padanya,” saran Orihime pada sahabat baiknya di SMA
Karakura ini. Matanya mulai mengikuti pandangan mata Rukia memperhatikan sosok
yang begitu disukai oleh sahabatnya itu. Kurosaki Ichigo.
“Entahlah, Orihime. Aku tidak
pernah memiliki kemampuan untuk mengatakannya. Maksudku, kau tahu sendiri kan
bagaimana Ichigo itu, aku ragu kalu dia juga menyukaiku.” Kali ini mata Rukia
terlihat begitu sendu. Sesaat Rukia sempat melihat Ichigo menatapnya, tanpa
sengaja pandangan mereka saling bertemu, membuat hati Rukia berdebar tak
karuan, tapi sedetik kemudian Ichigo sudah mengarahkan pandangannya ke tempat
lain.
Orihime hanya tersenyum melihat
gadis berambut raven disampingnya, dia tahu kalau sudah lama Rukia memendam
perasaan pada teman masa kecilnya itu.
“Tapi kau tidak akan pernah tahu
kalau kau tak pernah mencoba mengatakannya kan,” kata Orihime tersenyum. Rukia
memandang Orihime, terlihat keraguan dari tatapan mata Rukia. “Aku yakin kau
bisa,” lanjut Orihime sambil mengedipkan sebelah matanya pada Rukia.
Rukia lalu tersenyum pada
sahabatnya, Orihime memang benar-benar sahabat yang bisa mengerti dirinya.
“Terima kasih, Orihime.”
“Ya, eh maaf ya, Rukia. Aku harus
ke perpustakaan sekarang, tadi aku sudah janji pada Ishida-kun untuk menemuinya
di perpustakaan.”
Orihime segera berdiri dari
kursinya dan berjalan meninggalkan Rukia di dalam kelas sendirian.
-RUKIA’S P.O.V-
Aku kembali memperhatikannya dari
balik jendela kelasku, wajahnya yang bersinar diterpa sinar matahari, senyumnya
yang begitu menenangkan, pandangan matanya yang mampu membuatku terperangkap
oleh sepasang mata hazel yang dimilikinya. Aku benar-benar tidak sanggup
menepis pesonanya dari dalam hatiku.
Yah, inilah aku, Kuchiki Rukia.
Seorang siswi kelas 2 dari SMA Karakura, sudah lama aku memendam rasa suka pada
teman masa kecilku itu, Kurosaki Ichigo, yang merupakan siswa terpopuler yang
ada di SMA Karakura. Bukan hanya karena wajahnya yang tampan, tapi juga karena
segudang prestasi yang dimilikinya.
Sayangnya aku tidak penah sanggup
mengungkapkan perasaanku padanya. Aku sadar seperti apa diriku, aku hanyalah
gadis biasa yang tidak begitu terkenal disini. Prestasiku dalam pelajaran juga
biasa-biasa saja, bahkan tinggi badanku juga masih terlihat seperti anak SMP,
benar-benar tidak ada yang menarik. Aku tahu tidak mungkin Ichigo bisa suka
padaku. Selama ini dia hanya menganggapku sebagai temannya saja, aku bahkan
tidak tahu kenapa dia mau berteman denganku ini.
Dia memang begitu baik, begitu
mengerti dengan diriku, sikapnya yang seperti itu semakin membuatku berharap
padanya.
Ichigo, apa kau
bisa mengerti tentang perasaanku ini?
Apa aku salah kalau begitu
mengharapkanmu?
Pernah kucoba untuk memupus semua
asa padamu, membenamkan semua rinduku untukmu.
Tapi saat pandangan kita beradu,
kusadari sulit berpaling darimu.
Karena aku tahu, semua angan dan
mimpiku aku berikan tulus untukmu...
-RUKIA’S P.O.V –END-
You will always be
inside my heart
You will always have
your own place
I hope that I have a
place in your heart too
xXxXxXx
Ichigo melangkahkan kakinya
menaiki tangga menuju kamarnya, keadaan dirumahnya sangat sepi kerena anggota
keluarganya yang lain sedang pergi ke luar kota. Dan tinggallah Ichigo sendiri
dirumah sekarang.
Ichigo langsung membaringkan
tubuhnya diatas tempat tidur begitu sudah memasuki kamarnya.
“Rukia,” gumam Ichigo pelan.
Bayangan akan gadis mungil itu terus saja memenuhi kepalanya. Seharian ini dia
sama sekali tidak bertemu dengannya di sekolah, itu mungkin karena kelas mereka
memang berbeda. Ya, kelas Ichigo adalah kelas 2-A sedangkan Rukia berada di
kelas 2-F, jarak kelas mereka memang bisa dibilang cukup jauh, dan entah mengapa Ichigo merasa ada sesuatu
yang kurang setiap kali dia tidak bertemu dengan Rukia, seperti hari ini. Ini
membuatnya merasa seperti... merindukan Rukia?
“Hhh...” Ichigo mengusap wajahnya
pelan, dia lalu melirik ke arah luar jendela. Langit terlihat tidak secerah
biasanya, gumpalan awan hitam menutupi cahaya lembayung matahari sore ini.
Mungkin akan turun hujan nanti malam.
Pikiran Ichigo kembali pada sosok
Kuchiki Rukia, tidak bisa dipungkiri kalau Ichigo memang telah tertarik oleh
gadis itu. Gadis mungil itu berbeda, benar-benar tidak sama dari semua gadis
yang pernah dikenalnya selama ini. Disaat semua gadis di sekolahnya berebut
untuk mendapatkan perhatiannya, Rukia diam, dia hanya bersikap biasa di depan
Ichigo. Saat gadis lain sibuk mempercantik diri mereka dengan segala macam
make-up dan aksesoris lainnya, Rukia malah tidak pernah memperhatikan semua
itu. Penampilannya benar-benar biasa, tanpa make-up berlebihan dan apapun itu.
Namun justru itulah yang membuat Ichigo malah tertarik pada Rukia. Gadis itu
malah terlihat manis walaupun tanpa riasan yang aneh-aneh.
Ichigo tersenyum mengingat hal
tersebut. Entah sejak kapan, tapi Ichigo memang telah jatuh hati pada teman
kecilnya itu.
What you offered
straight to me
With a smile for the
last time
Was just so beautiful
Surely, that day
The two of us touched
love
xXxXxXx
-Kuchiki’s House, at 08.00 p.m-
Rukia masih berada di depan meja
belajarnya, dia baru saja menyelesaikan tugas rumahnya dari Unohana-sensei.
Rukia baru saja akan berjalan ke tempat tidurnya sampai dia melihat satu buku
yang menahan langkahnya. Rukia mengambil buku tersebut dan memperhatikannya
sejenak.
“Ini kan buku milik Ichigo yang kupinjam
kemarin? Jadi belum ku kembalikan ya?” gumamnya pada diri sendiri.
“Ah! Gawat, bukankah Ichigo
memerlukan buku ini besok.” Rukia tersentak dan melirik ke arah jam di
kamarnya. Sudah jam 08.15 malam.
‘Masih ada waktu untuk
mengembalikannya,’ pikir Rukia dalam hati.
Gadis itu segera beranjak keluar
dari kamarnya, dia melihat kedua orang tuanya duduk di kursi ruang tamu rumah
mereka.
“Mmm, Ayah, Ibu. Aku keluar
sebentar ya, aku harus mengembalikan buku ini pada Ichigo,” kata Rukia sambil
menunjukkan buku yang dibawanya.
“Oh, baiklah. Hati-hati ya,
Rukia,” jawab Hisana, ibu Rukia sambil tersenyum lembut.
Rukia hanya mengangguk dan segera
berjalan keluar rumah. Rukia sempat melihat langit malam yang begitu gelap
karena tertutupi oleh mendung. Namun Rukia mengabaikannya dan segera pergi
kerumah Ichigo.
Ditengah jalan Rukia merasakan
tetes air yang dingin menyentuh permukaan kulitnya.
“Hujan,” gumam Rukia yang segera
mempercepat langkahnya.
‘Bodohnya aku, kenapa aku tidak
membawa payung sih. Padahal sudah tahu kalau malam ini mendung dan mungkin akan
turun hujan,” maki Rukia dalam hati. Gadis itu langsung berlari sebelum
hujannya semakin bertambah lebat.
.
.
.
Ichigo sedang memandangi hujan
yang turun dari balik jendela kamarnya. Kemudian dia tersentak tersentak ketika
mendengar suara bel rumahnya.
‘Siapa yang kemari malam-malam
begini?’ pikir Ichigo dalam hati. Pemuda itu segera beranjak dari kamarnya
untuk membukakan pintu.
“Rukia? Ada apa?” tanya Ichigo yang terkejut begitu
mendapati sosok Rukia yang berdiri di depannya dengan pakaian yang sedikit
basah.
“Ah, aku hanya ingin
mengembalikan buku ini,” kata Rukia tersenyum sambil menyerahkan buku
ditangannya pada Ichigo, “terima kasih ya,” lanjut Rukia. Ichigo melihat tubuh
Rukia sedikit bergetar karena kedinginan, tentu saja, malam ini memang begitu
dingin ditambah lagi dengan hujan dan pakaian Rukia yang basah.
“Hhh... Kau ini. Masuklah, kau
pasti kedinginan di luar,” kata Ichigo mempersilakan Rukia masuk.
Tanpa berkata apa-apa Rukia
segera mengikuti Ichigo masuk kedalam rumah.
“Tunggu sebentar, aku ambilkan
handuk untukmu.” Ichigo segera meninggalkan Rukia sendiri untuk mengambilkan
handuk. Rukia kini duduk di sofa ruang tamu Ichigo. Pikirannya kembali
menerawang entah kemana.
Dia teringat pada perkataan
Orihime padanya di sekolah tadi. Benar apa yang dikatakan Orihime. Rukia tidak
akan pernah tahu kalau dia tidak pernah mencoba mengungkapkan perasaannya.
“Kau ini, memangnya besok tidak
ada waktu untuk mengembalikannya apa?” Suara Ichigo berhasil menyadarkan Rukia
dari lamunannya. Rukia melihat ke arah Ichigo yang sudah kembali membawa handuk
dan segelas coklat panas.
Ichigo lansung menyerahkan handuk
tersebut pada Rukia dan juga menyodorkan segelas coklat panas itu.
“Minumlah, ini akan membuatmu
merasa lebih baik.”
Rukia menyesap coklat tersebut
dan benar saja, dia merasa lebih baik ketika merasakan coklat itu mengalir
melalui kerongkongannya.
“Habisnya, bukankah kau memerlukan
buku itu besok,” jawab Rukia setelah perasaannya kembali tenang.
“Ya juga sih, hehehe... Tapi
kenapa kau menerobos hujan tanpa membawa payung, bodoh.”
“Hei, jangan mengataiku bodoh,
jeruk.” Rukia sedikit berteriak karena kesal pada Ichigo.
“Baiklah baiklah, kurasa
sebaiknya kau tunggu saja disini dulu sampai hujannya reda,” kata Ichigo pada
Rukia yang duduk disampingnya. Ichigo sedikit melirik Rukia yang masih terlihat
gemetar. Melihat Rukia yang seperti itu entah kenapa membuat Ichigo ingin mendekap
tubuh mungil itu dan membuang rasa dingin yang dirasakan oleh Rukia.
JGEERRR!
PATS.
“KYAAAAAA!”
Rukia menjerit dan langsung
memeluk tubuh Ichigo disampingnya. Rupanya ada petir yang cukup besar menyambar
sehingga membuat listrik di kota Karakura padam.
Rukia semakin membenamkan
wajahnya pada dada Ichigo.
“Hiks hiks, a-aku takut,” isak
Rukia pelan. Tubuhnya semakin gemetar karena takut dan juga hawa dingin yang
semakin menusuk.
Ichigo yang melihat Rukia begitu
ketakutan hanya bisa mengeratkan pelukannya untuk menenangkan Rukia.
“Tananglah, aku disini,” ucapnya
lembut seraya mengusap kepala Rukia.
“Hiks hiks, Ichi...”
“Ssshh, sudah tidak apa-apa.”
Hening.
Tak ada kata yang keluar dari
mulut keduanya. Ichigo masih memeluk erat Rukia sampai gadis itu tenang.
“Ichi...,” ucap Rukia pelan masih
membenamkan wajahnya di dada Ichigo.
“Hn,”
“Apa selama ini kau tidak pernah
mengerti perasaanku padamu, Ichigo?” tanya Rukia pelan.
“A-apa maksudmu?” Ichigo sedikit
terkejut dengan perkataan Rukia barusan.
“Apa selama ini kau tidak pernah
menyadari kalau aku begitu menyukaimu?”
Perlahan Rukia mengangkat wajahya
untuk menatap Ichigo. Air mata kembali menggenangi kedua iris violetnya yang
indah.
Ichigo masih terdiam, masih tidak
percaya pada apa yang didengarnya barusan.
“Apa kau tidak menyadari kalau
aku begitu menyukaimu, Ichigo. Sangat, aku sangat menyukaimu.”
DEG
Entah perasaan apa yang kini
dirasakan oleh Ichigo, ia menatap Rukia yang masih menangis dalam pulukannya.
Ya, gadis yang dicintainya kini menangis karena dirinya.
“Aku menyukaimu, Ichigo. Kumohon,
beri aku kesempatan untuk menjadi milikmu. Izinkan aku menjadi bagian dari
dirimi, Ichigo. Aku- Mmmpphh.” Perkataan Rukia terpotong ketika ia merasakan
bibirnya telah dibungkam oleh bibir Ichigo.
Ichigo mencium Rukia dengan
lembut, lalu kemudian menatap wajah Rukia yang memerah,
“Sudah cukup,” kata Ichigo
tersenyum lembut ke arah Rukia sebelum akhirnya kembali mencium bibir Rukia.
Perlahan ciuman Ichigo semakin
bertambah liar, dia terus memagut bibir Rukia lalu menggigit kecil bibir bagian
bawah Rukia meminta izin agar lidahnya bisa memasuki rongga mulut Rukia.
Rukia sedikit membuka mulutnya,
tidak mau menyia-nyiakan kesempatan, lidah Ichigo segera menerobos masuk
kedalam mulut Rukia, bermain didalamnya, lidahnya terus menjelajah setiap
rongga mulut Rukia, mengabsen satu-persatu gigi Rukia.
“Nngghh . . . Ichi . . .” Rukia
tidak tahan untuk tidak mendesah ketika diperlakukan seperti ini oleh Ichigo.
Lidahnya yang awalnya hanya diam kini mencoba untuk mengikuti permainan Ichigo,
saling memagut hingga membuat saliva mereka saling bercampur dan menetes
keluar.
“Nngghhh... Aahhh, Ichi-goo...”
Suara desahan Rukia semakin membuat Ichigo bergairah, dia menginginkan Rukia.
Tapi tentu saja kebutuhan oksigen memaksa keduanya untuk melepas ciuman mereka.
Ichigo memandang Rukia yang masih
mencoba mengatur nafasnya yang terengah-engah karena ciuman mereka tadi. Tak
lama, Ichigo kembali melumat bibir Rukia lagi.
Kali ini Ichigo memposisikan
tangannya pada bagian belakang pundak Rukia dan tangan satu lagi dibawah lutut
Rukia. Ichigo mengangkat tubuh gadis itu dan menggendongnya menuju kamarnya,
tentu saja masih dengan bibir mereka yang masih saling berpagutan satu sama
lain.
Ichigo menutup pintu kamarnya
dengan kakinya dan kemudian membawa Rukia ke tempat tidurnya. Perlahan Ichigo
menurunkan tubuh kekasihnya dan membaringkannya di atas ranjang. Dia melepas
ciumannya dan menatap lembut ke arah Rukia, Rukia hanya tersenyum dengan wajah
memerahnya.
“Aku mencintaimu, Rukia,” bisik
Ichigo tepat ditelinga Rukia.
“Aku juga, Ichigo,” jawab Rukia
pelan semakin memeluk erat tubuh kekar Ichigo.
Ichigo tersenyum dan kembali
melumat bibir Rukia.
“Aahhh . . . Nngghhh, Ichi ohh
goo...” Desah Rukia semakin menjadi ketika tangan Ichigo telah berani menjamah
bagian sensitifnya.
Ichigo terus mencium Rukia
sedangkan tangannya mulai meremas bukit kembar milik Rukia yang masih tertutupi
oleh pakaian. Merasa pakaian itu mengganggu Ichigo lantas melepaskannya dan
melemparkannya kesembarang tempat.
Kini tidak ada sehelai benangpun
yang menutupi tubuh bagian atas Rukia.
“Aaahhh... hhh... Ichigoo...”
Ciuman Ichigo yang awalnya pada
bibir Rukia, perlahan turun mencapai leher Rukia.
Ichigo kembali memainkan lidahnya
di leher jenjang milik Rukia, ia jilat, hisap, dan ia gigit kecil permukaan
kulit leher Rukia. Membuat Rukia mendesah hebat karena kenikmatan yang
diberikan Ichigo.
Ichigo terus melakukan hal itu
sampai leher Rukia dipenuhi oleh kissmark darinya.
Melihat kedua bukit kembar milik
Rukia yang belum terjamah olehnya, Ichigo lalu menjilat dada Rukia, menggigit
putingnya pelan dan menghisapnya seperti anak kecil yang sedang munyusu pada
ibunya.
Sedangkan dada Rukia yang satu
lagi ia mainkan dengan jarinya, ia pilin pelan puting Rukia. Membuat gadis itu
mendesah dan menggeliat menampakkan sesuatu yang lebih dimata Ichigo.
“Aaahhh... haahh... hhh...
Ichiohgooo, pelan-pelanhh...”
Rukia semakin mendesah hebat
ketika tangan kanan Ichigo mulai merambat masuk kedalam celana dalamnya. Ichigo
mengelus lembut parmukaan vagina Rukia.
“Wow, kau basah sekali, Rukia.
Apa kau sudah tidak sabar ya sayang.”
Blush. Kalimat Ichigo barusan
membuat wajah Rukia memerah.
“Di-diam kau,” kesal Rukia
memalinngkan wajahnya yang sudah seperti kepiting rebus.
Melihat wajah Rukia yang seperti
itu membuat Ichigo terkekeh. Dengan gesit tangan Ichigo mulai melepas rok dan
celana dalam yang dipakai Rukia.
Juga tak lupa melepaskan pakaian
yang dari tadi masih dipakainya hingga terlihatlah kejantanan milik Ichigo.
Wajah Rukia semakin memerah
ketika melihat penis Ichigo yang sekarang sudah menegang.
Ichigo kembali memposisikan
dirinya di atas tubuh Rukia. Menghujani setiap lekuk wajah Rukia dengan
ciumannya. Sementara tangannya masih bermain di daerah vagina Rukia, terus
menjelajahi vagina Rukia hingga ia menemukan clitorist Rukia yang kemudian ia
mainkan dengan jarinya. Membuat Rukia tidak tahan untuk tidak mendesah.
“Nngghhh... Aaahhh... haahh...
Ichigooo.”
Desahan Rukia semakin menjadi
ketika ia merasakan ada benda asing yang berusaha menerobos masuk kedalam
lubang vaginanya. Ichigo memasukkan tiga jari tangannya sekaligus kedalam
vagina Rukia dan mulai menggerakkannya zig zag didalamnya. Membuat Rukia
semakin menggeliat.
“Aaahhh... haahhh... hhh,” desah
Rukia mengiringi klimaksnya. Ichigo langsung menarik jarinya yang sudah
dipenuhi oleh cairan Rukia, ia jilat cairan itu dengan nikmatnya kemudian
kembali memposisikan tubuhnya sejajar dengan tubuh Rukia.
“Kau percaya padaku, Rukia?”
tanya Ichigo lembut tepat ditelinga Rukia.
Rukia mengangguk lemah, “Ya, aku
percaya padamu, Ichigo,” jawabnya pelan ditengah nafasnya yang memburu.
“Tahan sebentar, mungkin akan
sedikit sakit,”
“Aaahhhh...” Rukia menjerit
tertahan ketika merasakan penis Ichigo mulai memasuki liang vaginanya. Air mata
Rukia meleleh begitu Ichigo berhasil menembus pertahanannya. Cairan hangat
mengalir keluar dari dalam vagina Rukia. Cairan hangat berwarna merah, darah.
Rukia yakin keperawanannya telah hilang sekarang.
Tak tega melihat air mata yang mengalir
dari mata kekasihnya, Ichigo kembali mencumbu Rukia lebih dalam, berusaha
mengalihkan rasa sakit yang Rukia rasakan.
“Aaaahh... Aaahhh... Aaahhh... “
Desahan Rukia kembali terdengar ketika Ichigo memulai gerakan in-out nya.
Bibirnya turun menjilati puting Rukia dan meremas yang satunnya.
“Aaahhh... Haahh... haahh... “
Desah Rukia mulai mengikuti irama
gerakan yang dibuat oleh Ichigo. Rasa yang tadinya sakit, kina mulai terasa
nikmat bagi Rukia, membuat gadis itu merasa seperti di awang-awang.
Ichigo semakin mempercepat
gerakannya, membuat Rukia tidak tahan dan kembali klimaks untuk kesekian
kalinya.
“Aaakkhhh... Rukia... “ Suara
Ichigo tercekat ditenggorokan ketika dia mengeluarkan spermanya di dalam rahim
Rukia. Ichigo menjatuhkan badannya di atas tubuh Rukia dan terengah-engah. Dia
kembali menatap Rukia dan tersenyum lembut.
“Kau milikku, Rukia. Tetaplah
berada disisiku dan jangan pernah meninggalkanku,” kata Ichigo tersenyum
menatap Rukia.
Rukia benar-benar tidak menyangka
kalau Ichigo akan megucapkan kalimat itu padanya. Rukia membalas senyuman
Ichigo lalu menjawab pelan, “Ya, Ichigo. Aku milikmu, selamanya milikmu, dan
percayalah aku tidak akan pernah meninggalkanmu.”
Ichigo mencium bibir Rukia sekali
lagi kemudian menggeser tubuhnya kesamping tubuh Rukia dan memeluk Rukia.
“Aku mencintaimu, Rukia.”
“Aku juga mencintaimu, Ichigo.”
Setelah itu, Rukia menutupi tubuh
mereka dengan selimut. Lalu mereka mulai terlelap, dan saat mereka membuka mata
nanti, kisah baru akan terukir dalam hidup mereka.
Stay by my side, my
love
Crossing over time and
changing your shape
The future we haven’t
yet seen
Remains here
Trust me, my love
You live within me
So I’ll never say
good-bye to you
Surely, that day
The two of us touched
love
-The
End-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar