Hai, Minna-san... ^_^
Kali ini saya ingin memposting fanfic buatan saya disini... :D
Kalau tertarik silahkan membaca dan jangan lupa tinggalkan komentar, ya... ^_^
.
.
.
Disclaimer
: Bleach (c) Tite Kubo
This Story : Aira Yuzuriha
Pairing
: Ichigo K. & Rukia K.
Warning
: OOC, Typo(s), Abal, Gaje, Absurb, Abstrak, de el el.
Don’t Like,
Don’t Read.
.
.
-SUMMER
MEMORIES-
.
.
Suasana sudah cukup malam saat Ichigo
Kurosaki memacu mobilnya meninggalkan rumah sakit Karakura. Dia ingin
secepatnya berada di rumah agar bisa
melepaskan rasa lelahnya setelah seharian bekerja.
Namun sepertinya dia pulang terlambat
lagi hari ini karena ketika Ichigo memasuki rumahnya, dia mendapati rumahnya
dalam keadaan sepi dan gelap karena lampu ruang tamu sudah dimatikan.
“Hhh... sudah jam 10 malam ya...,”
gumamnya pelan setelah melihat jam tangan yang dikenakannya. Perlahan tangannya
mencari tombol lampu dan menyalakannya. Pria berambut orange terang itu
mendesah berat saat menjatuhkan tubuhnya di sofa ruang tamu.
“Hah... aku pulang terlambat lagi,
ya...” keluhnya sambil menyandarkan punggungnya yang terasa kaku. Pekerjaannya
sebagai seorang dokter membuatnya harus selalu siap kapanpun dia dibutuhkan.
Tanpa sengaja pandangan matanya melihat
sebuah kalender yang berada di dinding ruangan.
Sekarang, tanggal 15 Juli.
Ichigo tersenyum mengingat hari ini. Bukan
hanya karena hari ini adalah hari kelahirannya, tapi karena hari ini juga hari
dimana dia bertemu dengan orang yang sangat dia cintai untuk pertama kalinya.
Semua bermula saat Ichigo masih sekolah
di SMA Karakura.
-FLASHBACK-
“Happy birthday to you... Happy birthday
to you... Happy birthday... happy birthday... happy birthday Jeruk...”
Suasana ramai dalam kelas 3-A terdengar
dari beberapa murid laki-laki yang sedang merayakan hari lahir salah satu
sahabat mereka.
“Aarrgghhh... Kalian ini mau membuatku
senang atau malah ingin mempermalukanku sih?” protes Ichigo sambil mengacak
rambutnya yang berantakan.
“Baiklah, sudah diputuskan! Kita akan
merayakan ulang tahun Ichigo dengan menghabiskan waktu di pantai!” seru Renji
bersemangat diikuti dengan anggukan dari ketiga temannya. Ishida Uryuu,
Hitsugaya Toushiro, dan Shuhei Hisagi.
“APA?? Apa maksud kalian? Kenapa harus
di pantai?” tanya Ichigo yang terkejut dengan ide dari pemuda berambut merah
itu.
“Ayolah, Ichigo. Ini kan hari ulang
tahunmu... Jadi kami akan membuatmu tidak bisa melupakan hari ini seumur
hidupmu.” Kali ini Hisagi yang berbicara.
“Yah, dan tidak ada tempat paling
menyenangkan saat musim panas selain di pantai, kan.” Bahkan sekarang Hitsugaya
juga ikut memberi komentar.
“Hahh...” Ichigo hanya menghela nafas
pasrah menerima ide dari para sahabatnya.
“Hahaha... tenang saja, Ichigo. Ini
semua pasti menyenangkan,” seru Ishida sambil menepuk pelan bahu Ichigo.
.
.
Okinawa, sebuah tempat yang menyuguhkan
pemandangan yang begitu indah dan begitu memanjakan mata. Hasil dari suasana pedesaan
Jepang yang khas berpadu dengan eksotisme pantai yang indah.
“Waahhh...
Ini pasti menyenangkan sekali!” seru Hisagi bersemangat begitu melihat lautan
yang terhampar luas dihadapannya.
“Bagaimana
menurutmu, Ichigo?” tanya Hitsugaya pada Ichigo yang masih berdiri
disampingnya.
“Yah,
aku rasa ide kalian itu bagus juga,” kata Ichigo masih memandang takjub suasana
yang ada di depannya.
“Baiklah,
ayo kita bersenang-senang!!” seru Renji dan Ishida bersamaan.
“YEAAHHH!!”
.
.
.
Suasana
penginapan yang mereka tempati tidak terlalu ramai. Mungkin karena semua orang
lebih memilih untuk menghabiskan waktu mereka diluar ruangan. Yah, tidak heran
sih. Siapapun pasti tidak ingin melewatkan keindahan dari salah satu pantai
terindah di Jepang ini.
Kelima
sahabat itu berjalan santai menuju kamar mereka sambil terus bersenda gurau dan
tidak lupa saling melempar ejekan seperti biasa.
“Oh,
maaf!” kata Ichigo saat dia tidak sengaja menabrak seseorang yang berjalan
melewatinya.
Terlihat
seorang gadis berambut hitam sebahu bertubuh mungil yang tampak menundukkan
kepalanya.
“Ah,
tidak apa-apa,” kata gadis itu seraya mengangkat kepalanya menatap Ichigo
sambil tersenyum.
DEG.
Sepasang
mata berwarna violet itu begitu indah
sehingga mampu membuat Ichigo terpaku. Senyum yang terukir di wajah yang mungil
itu begitu cantik. Entah kenapa Ichigo begitu terpesona dengan keindahan dari
amethyst yang dimiliki gadis tersebut.
“Hoi,
Ichigo!” suara Renji sukses mengembalikan kesadaran Ichigo. “Kau kenapa?” tanya
Renji yang merasa aneh dengan sikap pemuda barambut orange itu.
Ichigo
menggelengkan kepalanya, “Tidak ada apa-apa,” jawabnya singkat.
Bahkan
Ichigo tidak menyadari kalau gadis itu ternyata sudah pergi.
‘Siapa
gadis itu tadi?’ batin Ichigo lalu kembali melangkahkan kakinya menyusul
teman-temannya yang telah berjalan lebih dulu.
Setelah mereka selesai meletakkan semua
barang-barang mereka di penginapan, mereka berlima kembali lagi ke pantai.
Cuaca yang terik tidak menghilangkan
semangat mereka. Bahkan Hitsugaya dan Hisagi langsung menceburkan diri mereka
ke air begitu mereka tiba di tepi pantai.
“Wow!! Kalian lihat gadis-gadis itu?
Mereka cantik sekali! Apalagi dengan pakaian renang itu.”
BLETAK
Dua buah jitakan sukses mendarat di
kepala Renji.
“Aduh! Apa yang kalian lakukan?” protes
Renji tidak terima pada dua orang yang menjitak kepalanya secara tiba-tiba
itu. Siapa lagi kalau bukan Ichigo dan
Ishida yang masih menunjukkan tampang innocent-nya.
“Kami hanya berusaha untuk menghilangkan
pikiran mesum dari kepalamu,” jawab Ishida tenang tanpa rasa bersalah
sedikitpun.
“Ayolah teman-teman. Kapan lagi kita
bisa menikmati pemandangan seperti ini?” Renji tetap ngotot dengan
pemikirannya.
“Yah... baiklah. Terserah kau saja lah,”
kata Ichigo santai sambil mengedarkan pandangannya kesekelilingnya. Pemuda itu
berusaha mencari sosok seorang gadis yang dari tadi telah mencuri perhatiannya.
Seorang gadis yang memiliki mata amethyst yang indah.
‘Ah, ketemu!’ Mata hazel Ichigo tertuju
pada satu tempat dimana gadis itu sedang bersama dengan beberapa temannya. Ya
Tuhan. Senyuman itu, senyuman itu benar-benar mampu membuat hati Ichigo
berdebar.
Hampir saja Ichigo melangkahkan kakinya
untuk menemui gadis itu, namun teriakan dari teman-temannya kembali menahannya.
“Hey kalian!!! Apa lagi yang kalian
tunggu?” teriak Hitsugaya.
“Disini menyenangkan sekali lho!” tambah
Hisagi.
“Baiklah!! Kami kesana!” seru Renji yang
kemudian langsung menjatuhkan dirinya ke air dan menuju tempat Hitsugaya dan
Hisagi berada.
“Ayo, Ichigo!” ajak Ishida.
“Eh, kau duluan saja,” jawab Ichigo
sambil sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Kebiasaan yang dia
lakukan jika sedang gugup.
Ishida mengankat sebelah alisnya
bingung. Namun tidak lama kemudian dia segera meninggalkan Ichigo.
“Baiklah kalau begitu,” kata Ishida
sebelum bergabung dengan ketiga temannya yang lain.
Sementara Ichigo kembali mengarahkan
pendangannya ke tempat dimana gadis itu berada. Tapi sayangnya sekarang gadis
itu sudah tidak ada lagi disana.
Ichigo menghela nafas kecewa. ‘Cepat
sekali dia pergi,’ batin Ichigo.
.
.
#0#0#0#
.
.
“CHEERRRSS!!”
Kelima gelas besar berisi cola dari lima
orang yang sedang merayakan ulang tahun itu bertubrukan. Lima siswa dari SMA
Karakura tersebut meminumnya lalu kemudian tertawa bersama. Membuat suasana
cafe tepi pantai bernama ‘Espada Caffe’ itu terasa ramai. Ichigo menghela
nafasnya dan sesekali tertawa melihat tingkah konyol para sahabatnya yang
katanya sebagai hiburan di hari ulang tahunnya ini.
“Otanjoubi omedetou, Ichigo! Semoga
rambut jerukmu itu semakin terang!”
“Selamat ulang tahun, Jeruk! Lain kali
kau harus traktir kami, ya!”
“Yo, happy birthday, jeruk!”
“Hadiahnya kau buka saja di rumah ya!”
Renji, Ishida, Hisugaya, dan Hisagi beramai-ramai
memerikan sebuah kado berukuran besar sebagai hadiah ulang tahun Ichigo. Pemuda
yang sedang berulang tahun itu tersenyum tipis dan mengucapkan terima kasih
berulang-ulang pada para sahabatnya.
Sampai suatu ketika pandangan mata
Ichigo tertuju pada sudut ruangan. Disana, gadis mungil yang hampir seharian
ini membuat hatinya kacau terlihat sedang duduk sedirian sambil menikmati
segelas lemon. Mata amethyst-nya menatap lurus keluar jendela, ke arah pantai
yang terlihat ramai karena mulai dipenuhi oleh orang-orang yang ingin
menghabiskan musim panas mereka. Helaian rambut reven-nya melambai tertiup
angin.
Ichigo kembali terpaku melihatnya. Dan
sepertinya perubahan sikap Ichigo ini disadari oleh keempat sahabatnya. Mereka
semua segera melihat ke arah pandangan Ichigo tertuju dan tersenyum saat
mendapati seorang gadis yang tengah duduk sedirian di meja yang terletak di
sudut ruangan.
“HOI, Ichigo!” teriak Renji tepat di
telinga Ichigo, sengaja ingin mengejutkan pemuda itu.
“UWAA!” sayangnya Ichigo yang sangat
terkejut dengan hal itu langsung terjungkal jatuh dari kursinya. Membuat suara
tawa teman-temannya menggema.
“Hahaha... Lucu sekali reaksimu itu,
Jeruk!”
PLAK
Lagi-lagi sebuah jitakan kembali mendarat
dengan mulus di kepala Renji.
“Apa yang kau lakukan, BAKA?” protes
Renji tidak terima.
“Seharusnya aku yang bertanya begitu!
Kenapa kau tiba-tiba berteriak di telingaku bodoh!” teriak Ichigo.
“Oh, itu... Habisnya kau terus saja
melihat gadis itu sampai segitunya,” kata Renji sambil menunjuk seorang gadis yang sejak tadi diperhatikan
oleh Ichigo.
“Hey, bukannya itu gadis yang kita temui
di penginapan tadi?” celetuk Hisagi yang membuat Hitsugaya, Renji, dan Ishida
kembali mengingat-ingat kejadian di penginapan tadi.
1 menit...
2 menit...
5 menit....
15 menit...
30 menit...
1 jam kemudian...
“Benar juga!” seru mereka bertiga
bersamaan. Ichigo dan Hisagi sweatdrop. Lama amat loadingnya?
“Jadi kau menyukainya ya, Ichigo?” tanya Hitsugaya yang membuat
Ichigo kelabakan. Pemuda berambut terang itu tidak bisa mengeluarkan kata-kata
untuk menyangkal ucapan temannya.
“Hahaha... Kau lucu sekali, Jeruk!”
“Sudah diam kalian semua!!!” teriak Ichigo
frustasi.
Sementara itu gadis yang sedari tadi
dibicarakan menolehkan pandangannya ke arah segerombolan pemuda yang membuat
suasana cafe ini menjadi ramai. Gadis itu terkekeh geli melihat tingkah konyol
beberapa orang disana.
Ichigo yang melihat hal itu langsung
terpanah. Oh, Kami-sama. Ichigo rela kehilangan nyawanya sekarang asal bisa
melihat senyuman itu sekali lagi.
Wajahnya terasa panas saat gadis itu
tersenyum ke arahnya. Membuat suara tawa keempat temannya kembali memenuhi
seisi ruangan tersebut.
.
.
#0#0#0#
.
.
Tanpa terasa suasana siang yang terik
kini telah tergantikan oleh malam yang dingin. Terlihat beberapa orang masih
berada di pantai sambil menyalakan api unggun.
Ichigo termenung di beranda kamar
penginapannya. Seharian ini dia terus menjadi sasaran teman-temannya. Bagaimana
mungkin dia bisa terlihat begitu bodoh hanya karena seorang gadis yang bahkan
belum dikenalnya. Memori otaknya kembali memutar kejadian tadi sore saat
dirinya bermain voli pantai dengan teman-temannya. Dan sebuah bola voli
mendarat sukses ke wajahnya karena konsentrasinya terbuyarkan oleh kehadiran
gadis mungil berambut raven yang tiba-tiba melewati tempat itu. Arrgghh...
Ichigo benar-benar ingin membenturkan kepalanya ke tembok karena hal itu.
Gadis itu benar-benar sudah membuatnya
gila.
Mata hazelnya kembali memperhatikan ke
arah pantai yang masih cukup ramai walaupun hari sudah malam. Tapi tunggu dulu.
Ichigo tersentak saat mendapati seseorang yang sedang duduk sendirian di
pantai. Tidak salah lagi, itu adalah gadis yang seharian ini berhasil
membuatnya terlihat seperti orang bodoh dihadapan teman-temannya. Gadis mungil
dengan mata amethyst berambut raven.
“Hey, aku mendapat tiket untuk pergi ke
pemandian air panas. Jaraknya tidak begitu jauh dari sini.” Terdengar suara
Ishida dari dalam ruangan.
“Benarkah?” tanya Renji bersemangat.
“Ini benar-benar menyenangkan.”
“Hei, Ichigo. Kau mau ikut tidak?” tanya Hitsugaya saat melihat
Ichigo berjalan mendekati mereka.
“Kalian saja dulu. Aku masih ada
urusan,” jawab Ichigo yang lalu segera keluar dari sana dan meninggalkan para
sahabatnya yang tampak kebingungan.
“Ada apa dengannya?” tanya Hisagi heran.
“Sudahlah, mungkin memang dia sedang ada
urusan,” jawab Ishida tenang seperti biasa.
.
.
Angin dingin langsung menerpa tubuh
Ichigo saat pemuda itu melangkahkan kakinya meninggalkan penginapan. Hatinya
kembali berdegup tidak karuan saat melihat gadis mungil yang sedang duduk
membelakanginya. Deruan ombak kembali terdengar memecah kesunyian malam. Angin
malam terus menari-narikan helaian rambut hitam itu secara perlahan.
Dengan sangat pelan, Ichigo berjalan
mendekati gadis itu.
“Hai,” sapanya singkat.
Gadis itu menoleh dan mendapati seorang pemuda
berambut orange yang sedang berdiri di sebelahnya.
“Hai,” balasnya sambil tersenyum.
Serius, Ichigo ingin sekali melompat kegirangan saat melihat senyum itu.
“Kau sendirian?”
“Seperti yang kau lihat.” Gadis itu
tidak berhenti menunjukkan senyumannya.
‘Sial. Kalau seperti ini terus aku bisa
mati,’ batin Ichigo.
“Boleh aku menemanimu disini?” tanya
Ichigo dengan SANGAT hati-hati.
Gadis itu hanya mengangguk dan menggeser
sedikit posisi duduknya agar Ichigo bisa duduk di sebelahnya.
“Ada yang sedang kau tunggu?” tanya
Ichigo lagi.
“Ya...” gadis itu tersenyum senang.
Ichigo tidak ingin mengambil kesimpulan kalau gadis ini sedang menunggu
kekasihnya. “Hanabi,” lanjutnya.
“Hanabi?”
Gadis itu mengangguk dengan semangat.
“Ya, setiap malam saat musim panas, akan ada hanabi disini.”
Dan benar saja, tidak lama kemudian
sebuah cahaya berkelap-kelip dari kembang api di langit malam menandakan kalau
perayaan kembang api telah dimulai.
Ichigo memandang gadis disampingnya yang
terlihat begitu senang menatap warna-warni dari cahaya kembang api tersebut.
Merasa terus diperhatikan, gadis itu
menoleh menatap Ichigo.
“Oh iya, siapa namamu?” tanya sang gadis
dengan senyum mengembang di wajahnya.
“Kurosaki Ichigo. Dan kau?”
“Aku Kuchiki Rukia...”
.
.
-FLASHBACK
–END-
Ichigo kembali tersenyum saat mengingat
kembali pertemuan pertamanya dengan Rukia. Wanita yang sangat dicintainya
hingga saat ini.
“Ichigo? Kau sudah pulang?” pertanyaan
itu sukses membuat Ichigo tersadar setelah sejak tadi berflashback ria.
Ichigo menoleh dan mendapati seorang
wanita tengah berdiri tepat disebelah anak tangga.
Laki-laki berambut orange itu segera
berdiri menghampiri wanitanya dan memberikan sebuah kecupan singkat di
keningnya.
“Kau belum tidur, Rukia?” tanya Ichigo
tersenyum lembut.
Rukia menggeleng pelan. “Aku
menunggumu.”
Tanpa berbicara apa-apa lagi, Ichigo
langsung memposisikan tengannya di belakang bahu Rukia, dan tangan yang satunya
berada di bawah lutut Rukia. Seketika itu juga tubuh Rukia telah terangkat
dalam gendongan Ichigo.
“Kau bodoh, Rukia. Kau baru saja
melahirkan. Kau harus banyak istirahat sampai kondisimu pulih,” ucap Ichigo
seraya menggendong Rukia berjalan ke kamar. Ichigo kembali tersenyum mengingat
kata melahirkan. Ya, dua hari yang lalu, wanita itu telah melahirkan anak
pertama mereka. Kurosaki Akari.
“Ichigo,” panggil Rukia pelan.
“Hm?”
“Otanjoubi omedetou.”
Ichigo kembali tersenyum, “Arigatou,
Rukia.”
Yah, sepertinya teman-temannya memang
benar. Ichigo tidak akan pernah melupakan hari itu seumur hidupnya. Hari dimana
dia bertemu dengan seseorang yang akan mendampingi hidupnya.
.
.
-The End-
.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar